Jika UMKM Kreatif dan Inovatif, Cirebon Miliki Potensi Besar

Posted on

KEDAWUNG, Ribuan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada di wilayah Cirebon memiliki peluang yang sangat besar dalam memasarkan produknya di kancah nasional bahkan internasional. Asalkan mereka memiliki kreatif dan inovatif dalam hal produksi serta pandai membaca peluang bisnis yang iklim pasarnya lebih terbuka saat ini.

POTENSI

  • Ribuan UMKM punya peluang untuk memasarkan produknya di kancah nasional dan internasional
  •  Segmentasinya ada semua di sini mulai dari kuliner, fashion dan ekonomi kreatifnya juga tersedia

“Kurang apa potensi ekonomi kreatif yang ada di Cirebon. Segmentasinya ada semua di sini mulai dari kuliner, fashion dan ekonomi kreatifnya juga tersedia bahkan ada ribuan UMKM,” ungkap Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Fadjar Hutomo usai memberikan materi dalam kegiatan “Seri Kelas Keuangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kreatif Syariah” di salah satu hotel kawasan Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Rabu (20/2/2019).

Namun permasalahan yang terjadi saat ini menurut Fadjar, ada masalah dalam hal pengelolaan keuangan oleh pelaku usaha yang kerap menjadi kendala saat menjalankan bisnisnya. Selain itu, pola pemasaran yang tidak mengedepankan inovasi tentunya menjadi penyebab tersendatnya pengelolaan usaha oleh pelaku ekonomi yang ada di wilayah Cirebon.

MASALAH

  • Pengelolaan keuangan oleh pelaku usaha yang kerap menjadi kendala dalam menjalankan bisnisnya
  • Pola pemasaran yang tidak mengedepankan inovasi tentunya menjadi penyebab tersendatnya pengelolaan usaha oleh pelaku ekonomi yang ada di wilayah Cirebon

Oleh karenanya, Bekraf berperan penting dalam menunjang suksesi para pelaku ekonomi kreatif khususnya dalam mengatur keuangan usaha. Kontribusi yang dilakukan, kata Fadjar, yakni dengan memberikan pengetahuan manajemen keuangan usaha kepada pelaku ekonomi kreatif untuk mengakses alternatif permodalan dari perbankan.

SOLUSI

  • Bekraf berperan penting dalam menunjang suksesi para pelaku ekonomi kreatif khususnya dalam mengatur keuangan usaha
  • Memberikan pengetahuan manajemen keuangan usaha kepada pelaku ekonomi kreatif untuk mengakses alternatif permodalan dari perbankan
  • Bekraf merangkul lembaga keuangan untuk memberikan pemahaman akan pemenuhan kebutuhkan laporan keuangan sebagai salah satu syarat mengakses pembiayaannya
  • Bekraf membantu pelaku UMKM memiliki catatan keuangan usaha untuk mengakses pembiayaan perbankan
  • Kunci sukses sebuah usaha adalah wawasan luas dalam menjalankan sektor usaha.
  • UMKM harus kreatif dan inovatif dalam hal produksi serta pandai membaca peluang bisnis yang iklim pasarnya lebih terbuka

“Melalui seri kelas keuangan UMKM kreatif ini merupakan pembekalan dalam memberikan pengetahuan manajemen keuangan. Kami libatkan 100 peserta pelaku UMKM untuk mengikuti kelas ini untuk diberikan pemahaman dan ilmu pengelolaan modal keuangan,” katanya.

Menurut Fadjar, upaya Bekraf untuk “capacity building” bagi para pelaku usaha ekonomi kreatif tentunya untuk memberikan “knowledge and skill” tentang keuangan mereka. Baik dengan cara personal maupun bisnis finance-nya.

Pihaknya juga merangkul lembaga keuangan untuk memberikan pemahaman akan pemenuhan kebutuhkan laporan keuangan sebagai salah satu syarat mengakses pembiayaannya.

Karena, pelaku UKM kreatif saat ini memang banyak yang belum visible dan bankable. Oleh karenanya, Bekraf membantu mereka memiliki catatan keuangan usaha untuk mengakses pembiayaan perbankan.

Sehingga, pihak perbankan juga diberikan kesempatan menjelaskan produk pembiayaan yang sesuai dengan “the nature of the business” dari pelaku ekonomi kreatif.

“Jadi, jika sebuah usaha UKM terutama kebanyakan kreditnya bermasalah, tetapi bukan karena bisnisnya yang gagal. Bukan juga karena bisnisnya yang bermasalah. Tetapi, kemudian berawal dari pengelolaan keuangan yang buruk,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan diindikasikan keuangan usahanya masih campur dengan keuangan personal sehingga ketika terjadi risiko dalam hidup seperti sakit, kecelakaan, atau musibah, pasti ada kebutuhan tambahan.

“Makanya ketika kebutuhan tambahan ini tidak tercover dengan sebuah rencana proteksi atau asuransi, maka mau tidak mau akan mengambil modal. Hal itulah yang kerap menjadi kendala karena keuangannya campur,” katanya.

Sementara itu, Founder & CEO QM Financial, Ligwina Hananto dan Praktisi Keuangan Syariah, M. Bagus Teguh Perwira, sempat menyingung bahwa UMKM harus bisa berinovasi. Karena kunci sukses sebuah usaha adalah inovasi yang disertai wawasan luas dalam menjalankan sektor usaha.

Menurutnya, dalam hal jual beli tentunya konsumen dalam membeli produk yang lebih diutamakan adalah memiliki value lebih. Serta mempunyai sesuatu yang unik dan berbeda, sehingga membeli produk tersebut tidak yang lain.

“Keunikan atau velue yang berbeda itu kan salah satunya diperoleh dari inovasi. Jadi, sesuaikan keinginan pasar jangan ego sendiri dengan kualitas yang ada,” ungkapnya. Pihaknya menjelaskan, di Cirebon sendiri sebenarnya sudah masuk dalam salah satu kota atau wilayah yang memiliki potensi ekonomi kreatif yang luar biasa.

Ekonomi kreatif itu meliput tiga terbesar yang tersedia mulai dari kuliner, fashion dan craf. “Saya rasa, Cirebon memiliki potensi tiga itu. Sehingga pelaku UKM yang ada di Cirebon agar bisa bersaing dengan membuat produk keinginan pasar itu apa. Namun, masalahnya diera digital informasi yang terbuka ini, yang namanya daur hidup produk itu makin cepat,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *